Sepintas limbah sampah nampak sebagai barang mubah yang sudah tidak berguna lagi. Lain ceritanya ketika limbah ini dikelola oleh para creator yang memiliki impian untuk menjadi pengusaha sukses. Bukan rahasia lagi mereka berhasil “menyulapnya” menjadi barang-barang bernilai ekonomis.

Mock and money go together. Itulah motto yang mereka anut selama ini. Tidak jarang peruntungan itu diperoleh dari sesuatu yang dianggap kotor dan kurang bermanfaat. Onggokan sampah itu berasal dari sisa-sisa produksi pabrik baik berupa potongan-potongan kecil dari kain perca, sponge, busa, dacron, palstik, atau pun besi, juga barang-barang buangan lainnya. Tetapi semuanya itu sebenarnya masih dapat dimanfaatkan untuk suatu keperluan yang bernilai ekonomi asalkan jumlahnya memadai, dan tentunya ada pelaku yang bersedia mengelola produk limbah tersebut.

Sebutlah Erik, mantan karyawan sebuah pabrik penghasil cat di Tangerang. Ia kehilangan pekerjaan setelah perusahaannya bangkrut. Semenjak kurang lebih setahun lalu ia merasakan manisnya hasil dari berburu limbah pabrik. Betapa tidak, dari sisa-sisa potongan tali dan pita yang diperoleh dengan harga tidak seberapa bisa ia jual kembali kepada perajin-perajin kecil dengan harga tidak kurang dari Rp 8.000/ kg. Malah jika mau lebih sabar ia bisa melepas dengan harga Rp 12.000/ kg setelah produk tersebut disortir serta digulung rapi. Sisa berupa remah-remah benang pun ternyata masih ada harganya, yakni Rp 3.000/ kg.

Pemain lainnya adalah Anton Susilo yang menggeluti bisnis limbah sejak 2003. Laki-laki yang semula bekerja sebagai pegawai hotel. Begitu menyelesaikan kuliah ia keluar dari pekerjaan dan memilih berbisnis. Kebetulan tempat tinggalnya di Tangerang merupakan daerah industri sehingga timbul gagasan untuk mulai mencoba usaha penjualan limbah. “Awalnya saya mempelajari aliran barang, bagaimana cara mendapatkan barang, pasarnya ke mana, akhirnya jalan. Tetapi baru tahun 2006 omset mulai bagus,”paparnya.

Anton menambahkan biasanya setiap pabrik sudah terdapat orang yang “berkuasa” mengambil dan menampung sampah pabrik. Sedangkan orang-orang yang mencarikan pasaran atau pembeli yang hendak memanfaatkan barang-barang sortiran kerap dinamakan sebagai mediator. Ia memperoleh bagian penghasilan berupa komisi penjualan. Jumlahnya bervariasi tergantung jenis barangnya. Contohnya besi dengan harga jual Rp 2.000/ kg besarnya komisi Rp 100 atau Rp 200. Tetapi jenis logam lain seperti alumunium, tembaga, atau pun sisa-sisa kain dan plastik, bagian yang didapat bisa mencapai Rp 1.000-5.000/ kg. Pendapatan keseluruhan tinggal mengalikan berapa ton sampah yang berhasil dijual.

Anton mengaku cukup senang bermain di limbah karena menurutnya memiliki perputaran modal cepat. Setelah memiliki modal sendiri ia memang lebih suka beli barang langsung dan dijual sendiri. “Misalnya pagi saya dapat barang senilai Rp 5 juta, sore hari sudah langsung terjual, jadi meskipun margin hanya sebesar 3%-5% tetapi setiap hari,” tukasnya sambil menyebutkan saat ini modal yang diputar kurang lebih sekitar Rp 10 juta.

Menurutnya yang paling menguntungkan justru besi, biarpun untung cuma sedikit tetapi dalam jumlah banyak lebih gampang pemasarannya. Oleh Anton sisa-sisa plat besi tersebut dipotong-potong sesuai pesanan dan baru disetorkan ke perajin atau pabrik yang membutuhkan. Pada saat-saat tertentu seperti menjelang lebaran, plat logam untuk bahan kaleng harganya akan melonjak sehingga keuntungan bisa mencapai 90%.

Baik Erik maupun Anton keduanya berpendapat bahwa bisnis limbah memiliki prospek cukup bagus, dalam arti menjanjikan keuntungan lumayan. Pasar selalu terbuka sebab dengan beberapa alasan banyak perajin atau industri kecil tetap memanfaatkan produk-produk sisa atau sortiran. Pembeli yang order barang darinya adalah perajin, home industri atau perorangan di wilayah sekitarnya hingga pembeli dari luar kota seperti Bekasi, Purbalingga, Cirebon, bahkan hingga Palembang.

Di samping faktor kemampuan mencari pasar, lanjut Anton, yang harus diperhatikan adalah berhati-hati dalam melakukan pembelian barang. Membeli produk limbah sudah barang tentu berbeda dengan barang gres. Kualitasnya tidak bisa dijamin, kadang ada yang cukup berharga, tetapi tidak sedikit barang yang tidak bisa dimanfaatkan. Untuk mengurangi resiko harus tidak segan-segan meneliti barang satu per satu ketika masih di lokasi saat transaksi. Sebab kalau sudah berpindah tempat jangan harap bisa komplain.

Namun kendala tersebut tidak terlalu menjadi masalah karena umumnya semua pihak sudah sama-sama memaklumi, wong namanya juga berburu limbah.

dikutip dari: http://www.karir-up.com/2008/04/bisnis-limbah-hasilnya-melimpah/